|
“L
|
SPR sedang mempersiapkan para mahasiswa dan
lulusan untuk siap menjadi entrepreneur. Mereka belajar ilmu komunikasi di mana
ilmu ini sangat dibutuhkan oleh semua entrepreneur. Jadi seharusnya lulusan
LSPR bisa menjadi wiraswasta yang terampil dan komunikatif dalam hal
memasarkan, mempromosikan, dan mem-PR0kan dan bisa bersaing di kancah
internasional,” terang Prita Kemal Gani, Direktur dan Founder LSPR Jakarta.
Dalam peresmiannya, ada tiga sesi diskusi
membahas tentang startup, diisi oleh berbagai narasumber dari startup ternama.
Pada sesi pertama, membahas How to Start a Startup dengan narasumber
Alamanda Shantika, VP Product Go-Jek. Alamanda berbagai pengalaman mulai dari
asal mula Go-Jek berdiri, bagaimana visinya, hingga latar belakang orang-orang
di Go-Jek tidak harus berlatar pendidikan programmer.
Menurutnya, pada awal Go-Jek berdiri di 2010
masih berupa call center untuk memanggil ojek. Awalnya butuh waktu 30 menit
untuk mendapatkan pengemudi, kemudian pada 2014 setelah diluncurkan aplikasinya
proses mendapat pengemudi jadi lebih singkat.
“Startup itu muncul dari masalah yang sudah ada,
lalu selesaikan. Go-Jek itu muncul karena ada misi social impact ingin
menghidupi keluarga Indonesia lewat pekerjaan jadi ojek, jadinya masalah lebih
mengerucut dan solusi yang bisa dihadirkan lebih tepat sasaran,” ujarnya.
Dia juga menjelaskan, dalam jajaran direksi dalam
Go-Jek tidak harus melulu dilatarbelakangi oleh orang-orang dari lulusan
programmer saja. Ada dari lulusan marketing, teknis, keuangan, dan lainnya.
“Yang terpenting, kami memiliki satu visi yang sama.”
Kemudian, pada sesi kedua membahas Outside the
Comfort Zone. Pembicaranya adalah Hanifa Ambadar (CEO Female Daily), Yuka
Harlanda (CEO Brodo), dan dimoderatori oleh Tommy Herdiansyah (Founder Code
Margonda). Di sesi ini, Hani menerangkan comfort zone dalam setiap stage
berbeda-beda tergantung startup itu sendiri. Menurutnya, dari hasil riset,
sekitar 70%-80% gagalnya startup terjadi karena faktor internal.
Menurut Yuka, cara paling mudah untuk bisa
keluar dari comfort zone yakni dengan melihat kompetitor, mulai dari pencapaian
bisnis mereka dan strategi-strateginya. “Dari total populasi laki-laki di Indonesia,
sekitar 100 juta laki-laki butuh sepatu. Itu target penjualan kami yang ingin
dicapai.”
Sesi terakhir membahas Don’t Just Start a
Business, Solve a Problem yang oleh Leonika Sari (CEO Redblood),
Dennis Adhiswara (CEO Layaria), dan Dhini Hidayati (Co-Founder Gandeng Tangan).
Kesimpulan dari diskusi ini, seluruh pembicara sepakat bahwa dasar utama
mendirikan startup perlu didasari oleh masalah yang terjadi di lingkungan
sekitar dan sesuai dengan minat dan kemampuan.
Leonika menerangkan permasalahan yang mendasari
pendirian Redblood adalah minimnya stock ketersediaan darah di rumah sakit.
Dalam setahun dibutuhkan 5 juta kantong darah, tetapi hanya tersedia
setengahnya saja. Setelah diriset, rupanya banyak pendonor yang berminat untuk
mendonorkan darahnya, tetapi banyak permasalahan yang mereka hadapi, misalnya,
tidak adanya waktu untuk ke kantor PMI karena lokasinya yang terlalu jauh.
Malah persentase keberhasilan pendonor tidak selalu 100%. Lebih dari 50% dari
total peserta banyak yang ditolak karena ketidaktahuannya tentang persyaratan
menjadi pendonor, seperti kurang tidur, sedang mengkonsumsi obat, dan
lain-lain.
“Kegagalan itu justru jadi romantika dari proses
pendirian startup. Jadilah orang yang ada di proses sejarah itu,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar